SEBUAH HARAPAN BATIN
SEBUAH HARAPAN BATIN
Cerpen Nur Ratnasari
Sebuah sekolah bertaraf internasional di
daerah Bandung, berada di depan mata dua sahabat yang telah lulus SMP dengan
nilai kelulusan yang cukup memuaskan. Walaupun dengan perbedaan kepercayaan,
penampilan, dan material, mereka berdua cukup kompak dalam hal membina sebuah
persahabatan.
Suatu
malam yang kelam, rembulan enggan menampakan dirinya begitu pula para bintang
yang tak kuasa melawan awan hitam yang menguasai sang malam.
Di sebuah kamar yang sederhana, terbaringlah
seorang remaja putri yang tak bisa memejamkan kedua matanya, dia hanya bisa
mengedipkan matanya yang indah dan penuh harapan. Sesekali ia membayangkan
sesuatu yang indah dalam hidupnya, namun apakah semua khayalan itu akan
terjadi? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawabnya. Drrrrd... Drrrrd... suara
getaran handphone membuyarkan khayalannya, “ Aduh, Astagfirulloh... kaget aku,
dasar Hp jadul.” ucapnya spontan saat Hp itu bargetar. Ketika ia melihat ke
layar Hp itu, tertulis TAHAJUD YUK! Dan ia tersadar, “ Oh ia ya, sekarang udah
jam setengah 12 malam, mendingan aku ambil air wudhu dulu ah!” ucapnya tenang.
Setelah ia selesai sholat tahajud, ia merasa ngantuk, dan ia pun tertidur pulas
serta mimpi indah telah menantinya.
***
Cahaya matahari memancar dari kaca jendela
menuju kedua mata gadis cantik yang tenngah tertidur pulas. Karena matanya
silau, perlahan ia membuka matanya dengan berrat hati.
“ Emmh... silau amat sih... ganggu deh!”
gerutunya. Kemudia ia melihat ke arah jam dinding yang nyenterik berwarna emas.
“ Oh May God... Villia kamu terlambat lagi!” teriaknya sambil beranjak dari
tempat tidur, lalu membawa handuknya dengan tergesa gesa dan langsung masuk ke
kamar mandi.
Setelah Villia selesai menyaiapkan
perlengkapannya untuk pergi ke sekolah baru, ia bergegas membuka pintu kamarnya
dan dia pun tersentak, di depannya ada seorang gadis mengenakan seragam SMP dan
begitu cantiknya gadis itu mangenakan kerudung putih dengan hiasan pita
berwarna merah putih.
“Astaga... Asyifa!” ucapnya kaget.
“ Eh Villia baru aja aku mau ketuk pintu
kamar kamu, eh malah kamu yamg keluar kamar duluan. Udah siap?”
“ Udah, udah... ayo cepat kita berangkat!
Telat nih.”
“ Tapi Vi rambut kamu kan harus diiket
pake pitakata kakak mentor kemarin, kenapa kamu engga?”
“ Ya ampun Asy, gengsi dong naik mobil
angkot, diiket pake pita berantakan, kaya orang gila tau!”
“ Tapi nanti kamu dihukum loh sama kakak
mentor!”
“ Halah... biarinlah, lagian kamu juga ga
pake kan?”
“ Yee... kamu ngigo ya? Aku kan pake
kerudung Vi.”
“ Eh ia lupa, Ya dah ayo cepet kita
berangkat.” Villia menarik tangan Asyifa.
Setibanya disekolah, mereka beruntung
tidak terlambat, karena kakak mentornya yang terlambat. Villia dan Asyifa
merasa lega dengan hal itu, karna kalau meraka kesiangan pasti hukuman dari kakak
mentor super galak nan tegas menanti mereka.
Bel berbunyi kencang, para calon siswa
baru segera berkumpul di lapangan termasuk Villia dan Asyifa dan mereka
dipimpin oleh kakak mentornya masing- masing. Aura keteganganpun muncul dari
benak para calon siswa yang merasa takut dengan tingkah laku kakak mentornya.
Kegiatan ospekpun berjalan dengan
ketegangan dan ketakutan, begitu pula yang dirasakan oleh Villia dan Asyifa,
sebuah ketegangan menyelimuti mereka. Dari kejauhan kakak mentor perempuan yang
berteriak.
“ hai kamu!” teriaknya lantang.
Asyifa dan Villia tersentak dengan
teriakan itu, karena ujung telunjuk kakak mentor itu tertuju pada mereka.
“ Saya Kak!” jawab Asyifa takut.
“ Memangnya kamu merasa punya salah
hah..?”
“ Engga Kak” tertunduk.
“ Makanya jangan asal jawab, Heh kamu!”
menunjuk tepat pada Villia.
“ Ia Kak saya salah karena saya tidak
memakai pita.” Jelas Villia.
“ Ya kalau sudah tahu, skotjump 50 kali!”
perintahnya.
Dengan berat hati Villia nelaksanakan
hukuman itu, kalau sudah begitu Asyifa tak bisa berbuat apa- apa, karena kalau
Asyifa menolongnya, hukuman Villianyalah yang akan ditambah.
Bel istirahat telah berbunyi, dan kegiatan
ospek terhenti sejenak. Asyifa dan Villia beristirahat dan makan sambil
berbincang.
“ Gimana neng hukumannya? Rasa apa? Rasa
coklat?” canda Asyifa.
“ Boro- boro neng, rasa
batrawalli,pahit,iihh... ogah deh. Coba kalau ada Kak Alif dan yang menghukum
aku itu dia, aku rela deh... ampe 100 kali juga kuat asal dia pandangin aku dan
perhatiin aku. Eh tapi tadi itu seperti dihukum dipadang pasir sama nenek
lampir.” Komentarnya.
“ Makanya neng, kalau dibilangin tuh
nurut!”
“ Ia... ia...
Aku yang salah”
Kedua sahabat itupun pergi ke kelas
melanjutkan kegiatan ospek yang melelahkan fisik, pikiran dan hati karena
ketegangan dan ketakutan yang mereka rasakan.
***
Hari berganti hari, Asyifa dan Villia telah resmi
menjadi murid SMA. Denngan bangganya mereka bersama sama mengenakan pakaian
seragam putih abu dan berangkat ke sekolah diantar oleh mobil mewah bersama
ayah dan ibu Villia. Kemudian Asyifa dan Villia turun dari mobil itu.
“ Hati-hati ya sayang!” ucap mesra ayah dan ibu
Villia.
“ Ok Mah, Pah!” jawab Villia.
Asyifa pun mengkhayal, andai saja aku seperti Villia, hidup dengan kemewahan dan dia sangat
dimanja ayah dan ibunya. Sedangkan aku hanya hidup dengan kesederhanaan. Boro
boro dimanja, dipanggil sayang aja jarang.
“ Asy... Asyifa, kok bengong?” sahut Villia.
“ Eh engga, aku Cuma ga nyangka aja kita udah jadi
siswa SMA, rasanya seperti mimpi, Vi.” Jawab Asyifa.
“ Oh... ya udah kita masuk kelas yuk!” ajaknya.
Mereka melakukan kegiatan sekolah dengan gembira,
dan banyak kejadian yang mereka alami. Walau seburuk apapun kejadian itu,
tetapi mereka hadapi bersama- sama.
Keesokan harinya, seperti biasa penampilan
Asyifa dengan kesederhanaan dan penampilan Villia dengan kemewahannya. Mereka
berdua pergi ke perpustakaan sehabis pulang sekolah. Pada saat itu perpustakaan
sepi, hanya ada penjaga perpustakaan, buku-buku yang berjejer rapi,dan tempat
membaca buku yang tertata rapi.
“ Asy tolong bantu cariin bahan ya buat makalah
aku?” pinta manis Villia.
“Sip lah... apa sih yang engga buat
sahabatku yang satu ini..”jawab Asyifa.
“ Thank’s ya?”
“ Yoyoy...”
Saat Asyifa sedang mencari bahan untuk
Villia, tiba-tiba ia melihan seorang laki-laki yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. Tingginya kira-kira 170 Cm, rambutnya cepak hitam, kulitnya sawo
matang tapi manis dan memakai jam tangan warna coklat.
Subhanalloh...
baru liat laki-laki semanis ini, gumam Asyifa dalam hati sambil membawa buku bahan untuk Villia. Tanpa ia
sadari laki-laki itu memperhatikan Asyifa.
“ Hai... Kamu dari tadi kok ngeliatin aku
terus ya?” tanya laki-laki itu.
“ Eh... emmm... eeeeee... anu... itu...”
Asyifa tergagu gagap. Namun ia diselamatkan oleh Villia yang menghampirinya.
“ Asy, bahannya ketemu?”
“ Ia ini!” memberikan buku yang dari tadi
ia genggan erat karna ketegangan yang ia rasakan saat ditanya oleh laki-laki
manis itu.
“ Eh Asy ini siapa?” tanya Villia, namun
Asyifa tak bisa berkata apa-apa. Akhirnya Fadh l memperkenalkan diri untuk
memecah keheninhan antara mereka.
“ Aku fadhil Lukman Fauzi, anak X 1 murid
baru di sini, barua aja masuk hari ini, kamu siapa?” jelas Fadhil dan berjabat
tangan dengan Villia dan Asyifa.
“ Aku Villia dan ini sahabat aku Asyifa, kita
anak X 2. pantesan kita baru liat kamu, ya kan Asy?”
“ Euh... Ia” jawabnya singkat.
“ Ya udah kita duluan ya fadh!”
“ Ia silahkan”
“ Assalamu’alaikum” pamit Asyifa pada
Fadhil.
“ Waalaikumsalam...” jawab fadhil
terpesona.
Malam hari bulan menampakkan cahayanya dan
bintang kerlap kerlip bertaburan menghiasi langit malam.Asyifa tengah duduk
menghadap jendela memandang keluar sana,dan terus menerus membayangkan seorang
pria manis yang telah menyelinap masuk kedalam jendela hatinyayang masih utuh.
Dan Asyifapun membayangkan kejadian indah tentang fadhil.
Ya
Alloh, andai saja aku bisa punya pacar seperti fadhil, ganteng, manis, suaranya
lembut, aaahhhh..... bikin aku melayang deh Fadhil. Apalagi kata Villia aku
cocok sama Fadhil karena nama kita yang sama sama ada Fadhilnya, Asyifa Nur
Fadhillah dan Fadhil Lukman Fauzi. Uuuhh... cocok banget, khayalnya.
***
Beberapa bulan kemudian, hubungan Asyifa
dan Fadhil semakin baik, begitu juga Villia yang sudah menemukan pria idamannya
yang seiman dengannya, saat ini Villia dan Dylan sedang proses PDKT.
Minggu pagi Asyifa akan pergi ke toko
kaset untuk mencari CD nasyid kesukaannya, namun tanpa Villia karena setiap
minggu pagi ia harus pergi ke gereja. Tak seperti biasa Villia terlihat lebih
anggun karena dia memakai pakaian bebas, bukan seragam sekolah tentunya.
Setibanya di toko kaset, Villia langsung mencari CD nasyid
Raihan kesukaannya, namun CD itu tidak ia temukan sehingga ia harus bertanya
pada pegawai yang dekat dengan ia. Lalu
Asyifa menghampiri petugas itu, dari belakang petugas itu mirip sekali dengan
Fadhil.
“ Maaf Mas CD nasyid Raihan udah abis ya?”
“ Maaf Teh, saya kurang tau tapi sebentar
ya saya tanya sama teman saya” jawab pegawai itu dan dia bukan Fadhil. Lalu
pegawai itu memanggil temannya.
“ Fadh... ini ada yng cari CD nasyid
Raihan” serunya dan pergi.
Apa?
Fhad? Apa Fadhil? gumam
Asyifa dalam hati. Ternyata benar dia Fadhil, dan menghampiri Asyifa.
“ Asy, kamu yang cari CD nasyid?”
“ Ia, kamu kerja disini?”
“ Ia Asy udah hampir 1 minggu, eh CD Raihan
stoknya abis, tapi tenamg aja, kamu bisa pinjem sama aku kok, kebetulan aku
juga suka raihan”
Dari kejadian ini Asyifa dan Fadhil
semakin dekat, Fadhhil selalu memberi harapan lebih pada Asyifa, begitupun
sebaliknya.
Hari sabtu sore, Asyifa, Villia, Fadhil,
dan Dylan pergi bersama ke sebuah taman yang indah. Sebelumnya Fadhil pernah
berkata pada Asyifa bahwa dia akan mengungkapkan isi hatinya disebuah taman
pada seorang wanita yang selama ini tengah dekat dengannya. Asyifa telah
menduga bahwa wanita yang dimaksud Fadhil itu adalah Asyifa, dan inilah waktu
yang ditunggu tunggunya.
Asyifa, Fadhil, Villia dan Dylan asyik
berbincang, namun tiba tiba ada seorang wanita menghampiri mereka dan ternyata
wanita itu pacarnya Dylan, namanya adalah Kaila. Asyifa dan Villia kaget dengan
kejadian itu tapi fadhil tidak bersikap demikian, karena fadhil pernah
memergoki Dylan dan pacarnya saat pergi ke toko kaset tempat Fadhil bekerja. Dylan
pun pergi bersama Kaila.
Asyifa dan Villia tak bisa berkata
apa-apa, mereka kira selama ini Dylan tak memiliki pacar. Dengan rasa empati
Asyifa bergumam dalam hatinya, lalu
harapan yang selama ini Dylan berikan pada Villia itu apa? Harapan kosong? kasihan
Villia selama ini Villia telah termakan bualan cinta Dylan. Dasar laki-laki seenaknya
saja mempermainkan wanita. Tapi engga buat Fadhil, yang aku kenal dia tuh
orangnya baik, tak pernah memberi harapan kosong padaku, buktinya selama ini
dia akan menyatakan cinta padaku dan kita liat aja nanti seromantis apa fadhil
itu. Suara Fadhil membuyarkannya.
“Hai... kok pada bengong?oh ia aku mau
bicara sama kalian berdua tentng perasaanku”
“ Ya ngomong aja lagi!” ucap Villia.
“ kalian itu bagai dua tangkai bunga yang
selalu diperebutkan oleh kumbang-kumbang, dan satu kumbang saat ini ada yang mengincar
salah satu diantara kalian, dan kumbang itu adalah aku”
Ohh...
so sweet,kata-katanya indah banget pasti bunga itu aku, batin Asyifa.
“ Terus bunga itu siapa? Asyifa kan?” ucap Villia yakin dan
wajah Asyifa memerah.
“ Bukan!” jawab Fadhil
“ Terus siapa?”
“ ya siapa lagi lako bukan kamu Vi”
Deg... jantung Asyifa serasa tak berdenyut
lagi, begitupula Villia kaget dengan perkataan Fadhil.
“ Tapi fadh... Apa?...Aku?...terus
Asyifa?” ucap Villia tak karuan.
“ Ia aku suka sama kamu, selama ini aku
dekat dengan Asyifa karna aku cocok untuk curhat sama dia dan dia banyak cerira
soal persahabatan kalian. Vi aku pernah bilang sama kamu dan Asyifa kalau bagi
aku masalah kepercayaan itu ga ngaruhdalam soal cinta cintaan asal kita
ngeraasa cocok sama dia kenapa engga?”
Dengan mendengar perkataan itu dada Asyifa
terasa sesak. Butir butir serbuk harapan
dan khayalan tentang keindahan bersama Fadhil, tertiup habis begitu saja.
Kenapa ya Alloh, selalu Villia yang mendapatkan harapan Khayalanku? Ternyata
selama ini Fadhil memberikan harapan itu hanya demi mencari informasi tentang
Villia. Tapi tak terlihat sikap, sifat atau tingkah laku Fadhil yang bertujuan
untuk itu,ternyata semua laki laki itu sama tak pernah memperhatikan perasaan
wanita tapi hanya bisa mempermainkannya saja, batin Asyifa. Tak disadari,
Asyifa meneteskan air matanya namun tak
ada yang melihatnya.
“ gimana gimana Vi?”
“ Maaf Fadh aku ga bisa, saat ini aku
hanya ingin menjalin persahabatan dan pertemanan saja, tida lebih dari itu.”
Ya
tuhan apakah jawaban itu benar? Asyifa pasti sangat terpukul dengan suasana
seperti ini, Asyifa berprasangka salah tentang fadhil. Memang Fadhil orangnya
baik dan aku suka itu,tapi aku tak mungkin menerima Fadhil karna itu akan
menjadikan persahabatanku dan Asyifa menjadi puing puing beratakan, batin Villia.
Villia menggenggam kedua tangan Asyifa
tanpa memperdulikan Fadhil,mereka berdua saling memandang dan berpelukan dan
mereka tersenyum dengan rasa sakit mereka masing masing, karena mereka tak bisa
mendapatkan cinta dari seorang pria yang mereka harapkan. Namun mereka percaya
cinta sebuah persahabatan itu lebih indah dan lebih penting dari segalanya.
***
Komentar
Posting Komentar